Posted by Moss
Kebebasan
20xx
Hiruk-pikuk yang memekakkan gendang telinga merupakan tempat yang tidak asing untukku. Tempat yang ramai oleh manusia dari setiap penjuru. Datang hanya untuk menyaksikan bintang idolanya bernyanyi dan menari di atas panggung. Aku dan temantemanku benar-benar bahagia saat ini. Dapat bertemu dan melihat orang yang kami sukai walaupun dalam jarak yang lebih dari 500 meter dari hadapanku.
Sangat sulit untuk dapat keluar di saat pandemi wabah ini. Surat perintah sudah turun sejak seminggu yang lalu. Namun tempat konser yang bahkan sekarang aku datangi saja masih ramai. Tidak ada hal yang dapat menutup kehendak manusia untuk dapat keluar rumah demi menghilangkan rasa jenuhnya.
Selepas acara ini, aku melewati jalanan malam kota Jakarta, tempat diriku tinggal. Suasannya terasa sama seperti sebelumnya. Tidak ada aktivitas yang berubah, hanya masyarakat saja yang berkurang.
Tidak dapat menutup kemungkinan jika aku sudah mengertahui tentang wabah virus ini. Virus mematikan yang di anggap seperti virus zombie. Yang akan menular jika berdekatan dengan suspek. Ribuan berita juga telah mengisi setiap media pembawa informasi. Masih terasa jelas, teriang di kepala saat ibuku mengatakan ini padaku, “Janganlah kamu keluar rumah. Tinggalah di sini, jaga kesehatan, dan menurut lah. Ini semua untukmu.” Dengan logat jawa-nya yang masih kental.
Tapi apa yang aku lakukan. Aku masih berada di luar, bermain hingga malam, dan pergi ke tempat keramaian. Aku masih dapat bercanda ria tanpa khawatir dengan lingkungan sekitar. Bermanja bersama sahabat merupakan waktu yang sangat membahagiakan untukku.
Ketika kami sedang berjalan di bahu jalan, tiba-tiba kami dicegat oleh beberapa orang pemakai baju coklat lengkap dengan atribut mereka. Seketika, aku yang sedang tertawa terbahak terhenti karena tangan kami yang di borgol paksa. “Apa yang kalian lakukan padaku! Aku tidak berbuat kesalahan apapun!” teriakku dengan tergesa-gesa.
“Sepertinya kamu tidak memiliki televisi dan gawai ya. Apa yang kamu lakukan malam-malam begini. Sangat terlarang untuk siapapun keluar rumah di saat seperti ini. Apa kalian masih tidak mengerti,” bentak orang yang memiliki atribut bertuliskan polisi persis di bawah tulang selangka mereka. “Aku hanya keluar di saat jam masih menunjukkan pukul 19.00. Apa itu sesuatu yang di larang? Aku bosan kalau harus selalu berada di rumah. Kenapa kalian semua harus membatasi aktivitas ku.”
Polisi itu menarik atau lebih tepatnya menyeretku, “Tidak. Kamu tetap harus kami bawa ke kantor polisi.” Ketegasannya dalam menjawab pernyataanku membuat nyaliku ciut. Akan percuma juga jika aku melawan orang berbadan besar itu.
“Tidak, aku tidak akan pernah ikut kalian. Aku hanya ingin keluar dengan bebas!” teriakku dan berusaha kabur dari genggaman mereka. Saat dirasa genggaman merenggang, dengan sekuat tenaga aku berlari menjauh dari mereka. Perasaan senang dapat kabur dari mereka membuat aku tidak sadar jika dari arah yang berlawanan sebuah mobil berjalan mendekatiku.
“Ahh.” Panikku dengan berteriak. Sosok yang sedang berdiri di sisi kasur tempat diriku terbangun sontak terkejut dengan teriakanku. “Ada apa? Apakah anda merasakan sakit?” tanya-nya padaku. aku menolehkan kepalaku ke arah suara itu. Betapa terkejutnya aku melihat sosok yang memakai pakaian tertutup sekarang sedang menatap ke arahku. Pakaian seperti jas hujan itu membuatku sedikit risih.
“Kenapa aku berada di sini?” ungkapan pertamaku kepada orang itu. Melihat perubahan ekspresi bingung dari orang itu membuat diriku juga mengikutinya. “Kamu adalah salah satu dari Pasien Dalam Pengawasan. Sekarang kamu dirawat di sebuah kamar isolasi di rumah sakit. Sudah hampir tujuh hari kamu berada di sini. Apakah ada keluhan baru lainnya?”. Aku yang mendengar jawabannya terkejut bukan main. Bukannya kemarin malam aku masih berada di luar rumah. Pergi berlari dari sergapan manusia berpakaian coklat. Aku bahkan hampir tertabrak mo-.
“Bukannya seharusnya sekarang aku adalah pasien dari kecelakan tabrak lari?” tanyaku lagi. Orang berpakaian lengkap yang hendak keluar dari ruangan menghentikan langkahnya. “Terima saja nasibmu karena mendapatkan cobaan ini. Lain kali dengarkanlah perintah orang yang lebih tua. Apakah kamu mulai menyesal dengan penyakit yang kamu alami?”.
“Sebentar lagi kamu akan mengikuti tes. Tunggu sampai aku masuk ke dalam sini lagi.” Ungkap-nya lagi tanpa mau tahu jawaban dari pertanyaan-nya. Aku hanya menatap kepergiannya. Pikiranku kosong. Hanya bunyi alat-alat kedokteran yang mengisi kekosongan itu. Entah apakah masih ada yang dapat aku pikirkan saat ini. Berarti tadi itu perawat yaa.
Seperti yang orang berpakaian jas hujan itu katakan. Sekarang aku sudah di bawa keluar dari ruangan pengap itu. Bertapa terkejutnya aku saat melihat begitu banyak orang yang berpakaian layaknya jas hujan itu. Apakah mereka tidak gerah. Aku tahu saat ini tengah musim kemarau sehingga pastinya suhu akan sangat panas.
Namun yang lebih membuatku terkejut adalah banyaknya orang-orang yang menunggu entah siapa di setiap lorong yang aku lewati. Mereka semua memakai masker. Poster dan spanduk tersebar di lorong. Semua membahas tentang wabah virus paling viral saat ini. Bahkan sesekali aku melewati perawat yang membawa keranjang peti yang aku yakini mereka adalah pasien meninggal karena wabah ini.
Sekarang aku mengerti. Aku berada di rumah sakit. Aku adalah Pasien Dalam Pengawasan dari virus mematikan dan aku hendak pergi untuk pengobatan lebih lanjut. Lalu, apakah kebahagian sebelumnya hanyalah sebuah mimpiku yang menginginkan kebebasan dari kekuasaan virus ini. Apakah ini yang disebut dengan penyesalan.
Seperti tersengat listrik, seketika tubuhku mengalami getaran luar biasa. Entah apa yang ku rasakan setelahnya. Yang aku tahu, kegelapan mengelilingin pengelihatanku. “Apakah aku tidak pantas lagi untuk bebas?”.
“Lalu apa yang terjadi dengan tokoh Aku itu, ibu?” tanya anak kecil yang sekarang duduk di pangkuanku. aku elus rambut hitam halusnya dengan perlahan. “Sekarang ia sudah tenang di suatu tempat yang sangat menyenangkan. Kamu tidak usah khawatir.” Jawab diriku setelah menyelesaikan cerita mengenai pasienku dulu. Cerita yang masih sangat dapatku ingat dengan jelas. Sebuah perjuangan keras pada masa yang kejam. Sebuah keinginan dan harapan kecil yang egois untuk dapat merasakan dunianya tanpa halangan. Semua terasa sangat cepat sekarang.
“Apakah ia pergi ke tempat yang sangat jauh, bu?”. Entahlah. Poin pentingnya, sekarang dia sudah mendapatkan kebebasannya.
Comments
Post a Comment